Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Wednesday, May 14, 2014

rokok itu disaku

kalimat sederhana yang terlontar dari kawan saya :
"rokok itu disimpan di saku",
apa maksudnya sih?
lah emang kalo tu rokok enggak disimpan disaku mau disimpan dimana gitu??
di tas? atau di sepatu? entar rokoknya ke injek, akibatknya enggak bisa dinikmati lagi itu rokok.
tenang sahabat, masih ada kelanjutan kalimatnya :
"rokok itu jangan disimpan di hati"
halooooooo... masa tu rokok bisa bikin L sakit hati, sumpah enggak berkelas banget cara L ngadepin rokok..
emang sih salah satu penyebab dari merokok bisa ke hati *masa sih... belum ada penelitian nya keleesss, ada juga tu rokok bisa kena paru-paru nya..
tenang sahabat, masih ada kelanjutannya :
"sama halnya dengan uang, uang itu disimpan di saku jangan disimpan di hati"
kalo saya jawab dengan gaya bebas, jawabannya kurang lebih sama dengan yang diatas, mari kita masuk pembahasan :


jika uang itu disimpan di saku, maka akan mudah untuk kita keluarkan. namun, jika uang itu disimpan di hati, maka akan sulit untuk kita keluarkan. hal yang sederhana, bagi saya hal ini lah yang membuat orientasi kita akan hidup mampu berubah. perubahan yang akan terjadi diantaranya : ketenangan akan hidup (bahagia). ketika memiliki atau tidak memiliki harta (misalkan : berwujud uang) hati kita tetap tentram dan nyaman. berikutnya nafsu terkendali. ambisi yang berlebih untuk mengejar sesuatu yang tidak abadi akan menurun, bukan berarti tidak mengejar juga. akibat berikutnya : tujuan hidup jelas. tidak mudah terombang-ambing dalam arus yang entah mengalir kemana, tidak mudah terbawa angin karena kokohnya akar yang dibentuk.

kebahagiaan merupakan sesuatu hal yang dicari oleh semua manusia, dimana dalam kondisi tenang, nyaman, aman, dan terkendali. semuanya ada di dalam hati setiap manusia. hati sesuatu yang terbolak-balik, yang sinkronisasi dengan input di dalam tubuh. setiap informasi yang diterima dari potensi manusia, hal tersebutlah yang memperngaruhi hatinya, sehingga cara berpikirnya, pandangannya, dan langkah gerak tubuhnya dipengaruhi oleh informasi yang diterimanya. perlu adanya filtrasi yang baik dalam input informasi. filtrasi terbaik adalah ilmu. untuk menjadikan hati yang bahagia, perlu adanya ilmu hati. agar olahan informasi yang diterima mampu menjadikan hati bahagia. lantas, materi pelajaran apa yang membahas secara mendetail mengenai ilmu hati?
terlintas dalam benak kita mengenai manajemen qalbu yaitu pesantren darut tauhid. jika kita pandang, lembaga pendidikan yang mengarahkan peserta didiknya untuk senantiasa mempelajari ilmu tauhid. tidak akan saya bahas panjang lebar, semoga bisa diambil pelajarannya.

nafsu dimiliki oleh setiap manusia, bohong jika ada yang mengatakan saya tidak memiliki nafsu. namun nafsu itu tidak bisa dihilangkan. nafsu itu sudah seharusnya dikendalikan. alat kendali terbaik dari nafsu adalah hati. sedemikian sehingga kita harus memiliki ilmu hati.

para sufi mempelajari ilmu hati. sehingga seluruh aktifitasnya tidak dicondongkan berdasarkan hawa nafsu, totalitas akan pengendalian nafsu dengan hati. seperti yang diketahui oleh kebanyakan, para sufi hidup jauh dari hiruk pikuk kehidupan, tetap bertahan hidup dalam kondisi serba adanya. seperti halnya biksu, melepas semua kehidupannya untuk memberikan loyalitasnya terhadap tuhannya. namun keduanya berbeda, karena landasan berpikir dan loyalitasnya berbeda pula. ilmu para sufi dikenal dengan nama ilmu tasawuf. 

tujuan jelas membuat langkah gerak manusia menjadi terarah hinggan nafsu nya dapat dikendalikan dan pada akhirnya kebahagiaanlah yang diperoleh. kebahagiaan abadi impian semua manusia, kebahagiaan yang kekal membuat setiap manusia mampu berada dalam kondisi nyaman, tenang, aman hingga batas waktu yang tidak ditentukan. akan menjadi kabur kebahagiaan itu, jika tidak dengan orientasi yang jelas. perlu adanya selayak pandang dari semua komponen agar kebahagiaan abadi sematalah yang menjadi tujuan hidupnya.

kalimat terakhir, mohon maaf jika pembahasannya kurang bisa dimengerti. yang pasti : mari kita pelajari mengenai ilmu hati, agar tujuan hidup kita di dunia menjadi jelas. dewasa ini pembelajaran ilmu hati belum bisa dipelajari di bangku sekolah atau dunia perkuliahan. pembelajaran ilmu hati bisa dipelajari di kehidupan yang penuh akan hikmah dan pelajaran, dan bisa dipelajari lewat kajian tauhid. lebih lagi kita mampu mempelajari ilmu tasawuf. menjadi seorang sufi di tengah-tengah kehidupan tanpa melepas profesi dan karir kehidupan.
semoga bermanfaat. 

Saturday, January 18, 2014

banjir 2

sejujurnya, saya tidak mampu melanjutkan tulisan ini. banyak sumber yang harus dibuka untuk mencapai suatu kesimpulan yang sempurna. karena jika didasarkan pada interpretasi pribadi ada kecenderungan persepsi tesebut didasarkan pada hawa nafsu. hawa nafsu ada kecenderungan pada ketidaksesuaian. maka dari itu, secara bersama banjir ini harus menjadi kajian publik yang pada nantinya menjadi penanganan yang dilakukan bersama juga.
terima kasih atas perhatiannya.


Friday, January 17, 2014

Banjir

seluruh wilayah nusantara menagalami keadaan yang sama, yaitu semuanya berada pada cuaca yang seragam. yaitu hujan. bisa dilihat di : http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Meteorologi/Prakiraan_Cuaca_Indonesia.bmkg
hujan bisa memiliki dua makna, yang pertama merupakan anugrah dan yang kedua merupakan bencana. menyikapi dua hal tersebut, setidaknya harus ada suatu refleksi bersama. bisa diakibatkan beberapa faktor untuk mendapatkan suatu kesimpulan berkenaan hujan merupakan anugrah atau bencana.
jika dilihat dari hasilnya, idealnya hujan memberikan kehidupan berdasarkan ayatnya bahwa hujan memberikan kehidupan bagi dunia ini. tentu saja, tumbuhan akan tetap hidup dengan adanya asupan air, manusia membutuhkan air minum, hewan pun sama. dampak yang terjadi coba lihat : banjir di manado, banjir di jakarta, banjir di bekasi, dan mungkin masih ada beberapa tempat lagi yang terkena banjir.
hal ini harus menjadi perbaikan kedepannya, bandung mensiasati banjir dengan program biopori atau wilayah-wilayah lain yang mulai berbenah dan mengambil langkah preventif untuk menghindari terjadinya banjir.

bukan berarti saya mengunggulkan program tersebut, namun ada yang harus dilakukan bersama untuk menangani hal ini. bukan tugas perorangan atau tugas suatu kelompok tertentu. namun menjadi tanggung jawab bersama yang sudah semestinya dilakukan oleh semua umat manusia.
jika boleh saya lakukan studi komparasi dengan kisah banjir yang terjadi pada zaman Nabi Nuh as. sebelum dilanjut, samakan definisi mengenai banjir yaitu : peristiwa terbenamnya daratan (yg biasanya kering) karena volume air yg meningkat (KBBI). pada zaman nabi Nuh (Al-A'raf 59-64). 
bersambung.

Friday, May 24, 2013

Refleksi Bersama I



Salah satu kegiatan yang dapat memanusiakan manusia adalah refleksi diri. Pengertian refleksi diri disini adalah mengaca diri, melihat kembali terhadap apa-apa yang telah dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kemampuan diri. Kegiatan ini banyak manfaat untuk melihat sejauh mana kita mampu menjaga konsistensi diri. Selain itu, sebagai salah satu bahan renungan dalam menghadapi suatu permasalahan tertentu.
Setiap manusia memiliki tujuan hidupnya masing-masing. Untuk mencapai tujuannya diperlukan indikator yang dicapai tiap jangka waktu tertentu, agar memudahkan diri dalam mencapai tujuannya. Tujuannya adalah saya akan lebih pandai dalam pelajaran Matematika pada kelas VII, dan salah satu indikator per-harinya adalah “hari Rabu saya akan menyelesaikan 2 soal Matematika”. Dilihat dari indikator pencapaiannya, pribadi tersebut mempunyai suatu tujuan dalam jangka waktu tertentu. Untuk melihat apakah indikatornya tercapai atau tidak bisa dilihat dalam bentuk pertanyaan sederhana : “apakah di dalam buku Matematika saya telah menyelesaikan 2 soal?”. Jika “ya”, maka refleksi diri yang mesti dilakukan adalah “hari Kamis saya akan menyelesaikan  3 soal Matematika”. Jika “tidak”, maka refleksi diri yang mesti dilakukan “bagaimana hari kamis saya dapat menyelesaikan 2 soal matematika?”.
            Fokus dalam refleksi adalah mencari suatu peluang atau kesempatan agar indikator pada jangka waktu tertentu bisa tercapai. Peluang itu bisa dibuat. Misalkan dari merunut kegiatan selama hari Rabu dari bangun tidur hingga tidur kembali, adanya suatu peluang yang bisa digunakan untuk mencapai indikator yaitu : “selepas makan malam, saya melakukan kegiatan jaringan sosial (fb-an) selama 1 jam”. Waktu 1 jam tersebut, disisihkan 10 menit untuk menyelesaikan 2 soal matematika, sehingga indikator yang akan dicapainya adalah : “hari kamis selepas makan malam saya akan menyelesaikan 2 soal matematika selama 10 menit”.
            Prinsip dasar dalam menentukan indikator adalah tidak mempersulit diri, memudahkan diri, manfaat bagi diri, dan dilakukan dengan bertahap. Agar pencapaian indikator bisa dilaksanakan dengan optimal. Segala sesuatu pun harus dilaksanakan tanpa ada rasa beban yang membuat diri sanggup untuk melaksanakannya dan jadikan lah “hari esok lebih baik dari hari ini” sebagai slogan yang menjadi motivasi dalam diri.
            Realita tidak semudah teori. Terkadang, permasalahan yang rumit dan tak mampu diselesaikan oleh satu pribadi menjadikan refleksi tidak berdaya guna dan manfaat. refleksi bersama bisa menjadi salah satu alternatif dalam penyelesaian masalah. Misalkan hasil dari merunut kegiatan selama hari Rabu dari bangun tidur hingga tidur kembali, tidak melihat adanya kesempatan untuk menyelesaikan 2 soal matematika. Hasil runutan tersebut, dibagikan atau diberitahukan kepada adik atau sahabat karib. Dan ajukan pertanyaan kepadanya “adakah waktu yang saya bisa gunakan untuk menyelesaikan 2 soal matematika?”. Jika ada, maka jadikan indikator untuk hari esoknya. Jika tidak, maka tanyakan kepada ahlinya.
            Seseorang dikatakan ahli, apabila telah memenuhi standar baku / kompetensi yang ditetapkan dengan benar. Misalkan : ahli dalam kasus diatas diantaranya adalah guru profesional bidang pelajaran matematika, wali kelas profesional di sekolah, dan guru BP profesional. Paparkanlah urutan waktu pada hari Rabu, dan ajukan pertanyaan “adakah waktu yang saya bisa gunakan untuk menyelesaikan 2 soal matematika?”. Jika ada, maka jadikan indikator untuk hari esoknya. Jika tidak, maka tanyakan kepada Yang Maha Ahli.
            Ada ketidakpantasan tatkala menjadikan Yang Maha Ahli sebagai solusi terakhir. Oleh karena itu, ubah sistematika refleksi bersama dengan mengawali penyelesaian masalah dengan Yang Maha Ahli dilanjutkan penyelesaian masalah dengan sahabat karib atau ahlinya. Agar tujuan dari pribadinya bisa dicapai dan diraih sehingga kebahagiaan kan menanti.
“Bersama pasti bisa”
Bersambung.

Wednesday, May 22, 2013

2 C

Manakah yang harus didahulukan antara Cinta dan Cita-Cita?
Semuanya mengharapkan yang terbaik dalam kehidupan, menginginkan menjadi seseorang yang berguna, mempunyai sebuah visi dan misi yang telah di inventarisir dengan serelevan mungkin dengan entity diri. Tak dilupakan adanya sebuah anugrah yang telah dimiliki dan sudah ditebar benih sebelum genap menjadi segumpal daging, tanpa adanya penyeselan, yang ada kebahagiaan. Satu kata akhir menjadi incaran bagi jiwa agar tetap calm down, yaitu bahagia.
Jalan terbentang luas, hanya cinta yang menentukan jalan bagi individu yang menjalaninya dengan enjoy. Suatu sistematika yang luar biasa, telah didesain sedemikan rupa agar tetap mencari kunci yang hilang pada gelapnya malam. Tak berarti mampu memandang, butuh waktu untuk adaptasi.
Sejatinya antonim akan tetap ada. Bukan menjadikan diri pantomim, yang tak mampu mencurahkan naluri. Tatkala seperti air yang mengalir, hanya akan membuat buih yang tersapu angin dan lenyap tak membekas. Pentingnya cita-cita yang sudah menjadi keinginan bagi individu sejak menginjak pre-school untuk menjadi pilot dan dokter sedemikian sehingga memanipulasi kehidupan pada samak 2 × 2, ayah pulang kerja ibu menunggu di rumah sudah menjadi pendidikan terpadu.
Melirik diantara tujuh pintu, membuat diri move-out. Dengan freelance tak mengubah paradigma calon mertua, maybe. Keep moving forward adalah kunci sabar dalam menghadapi hutan rimba. Merasakan hidup di kota seperti di hutan, bermalam di hutan layaknya suasana malam kota. Bukan berarti adanya free yang tak terbatas, namun tak hinggn dalam memandang seakan tactic cerdik dari manager atau mungkin refleksi diri.
Ketidakjelasan dalam empat paragraf, penulis mencoba menggabungkan dari dua bahasa yang berbeda tanpa memperhatikan tata baku dalam penulisan. Sehingga menjadi empat paragraf yang tidak ada daya guna dan manfaat bagi pembaca dan penulis, agar manfaat mari menjawab perntanyaan sebelumnya?
            Cinta adalah dasar bagi seorang individu dalam realita kehidupannya. Mengapa ku rela dan mau mengunjungi sang kekasih sekalipun berada di tempat yang jauh? Cinta. Mengapa ku rela menyisihkan uang jajan di awal bulan untuk pertengahan bulan atau akhir bulan? Cinta. Mengapa ku sanggup membuka tabungan yang selalu diisi tiap harinya untuk resepsi pernikahan? Cinta. Mengapa ku tahan rasa lapar agar bisa makan berdua di resto ternama? Cinta. Mengapa ku ganti oktan 92 yang harum menjadi oktan 86 yang harum pada motor ku? Cinta. Mengapa ku pergi facial tiap minggunya mengunjungi dokter spesialis dan mendadak menjadi pakar kulit yang tak punya ilmu pengetahuan? Cinta. Apakah seperti ini Cinta?
            Belum ada pendefinisian mengenai cinta, karena sulit untuk diungkapkan melalui kata-kata, dideskripsikan dengan tulisan, namun tertanam dalam setiap diri. Ada sesuatu hal yang memang telah dinyatakan : bahwa sesuatu yang tertanam tersebut telah ada sebelum yang sebenarnya berada pada ketidakberadaan. Sekalipun sesuatu tersebut belum menjadi suatu kajian yang komprehensif, namun sesuatu tersebut memiliki korelasi yang baik dengan keberadaan.
            Asumsi awal sesuatu sama dengan cinta. Cinta akan muncul dari diri yang sebenarnya. Identitas diri bisa bermulai dengan cinta dan bisa dibangun dengan cinta. Tak ada kata terlambat dalam memulai dan membangun, selagi berjalan bersamaan dengan cita-cita. Untuk memulai bukan merupakan hal yang mudah. Apalagi memulai untuk mengembalikan tulang rusuk bagi pria dan kembalinya tulang rusuk bagi wanita, memadukan dua dasar yang berbeda harus ada satu kesamaan agar  pria dan wanita bersatu, yaitu cita-cita. Cita-cita memiliki anak yang baik dan benar, cita-cita memiliki rumah idaman, cita-cita memiliki tunjangan akhir tua, cita-cita memiliki cucu yang baik dan benar yang kelak akan meneruskan urusan keluarganya.
            Cita-cita menjadi penentuan dalam memandang segala aspek kehidupan. Seperti kaca mata bagi penderita rabun jauh atau rabun dekat. Cita-cita mesti digantungkan setinggi langit, itulah opini publik yang ada saat ini. Maksudnya cita-cita harus terus dikejar, diraih, direalisasikan dengan penuh upaya dan kinerja yang baik dengan tujuan tercapainya cita-cita. Sesuai dengan contoh yang ada, cita-cita insan sama dengan yang dicintainya. Sedemikian sehingga cita-cita sama dengan cinta, dan cita-cita sama dengan sesuatu.

Cita-cita sama dengan cinta. Penentuan segala harapan dan keinginan dengan dilandasi rasa suka dan dilaksanakan dengan sepenuh hati akan menghasilkan kebahagiaan yang luar biasa.

Monday, February 13, 2012

CINTA


~ CINTA IBUNDA ~

Apa yang menarik dari kisah Harry Potter? Bagi saya, novel anak-anak tersebut telah menyelipkan sebuah adegan menarik sekaligus mengharukan:
Kekuatan cinta seorang ibu. Voldemort --penyihir hitam paling ditakuti--tiba-tiba kehilangan seluruh kekuatannya ketika ingin membunuh seorang bayi, setelah sebelumnya berhasil menghabisi orang tua bayi itu. Dunia Mistik menjadi gempar atas kekalahan penyihir tersebut.
Ternyata, sampai detik-detik menjelang kematiannya, sang Bunda masih terus berupaya menyelamatkan Harry Potter yang masih bayi itu. Kekuatan cinta seorang Ibu, meskipun sang ibu telah tiada, telah mampu melindungi sang anak dari bahaya.
Lepas dari kisah Harry Potter, pernahkah kita menghitung berapa liter beras dan berapa jenis makanan yang telah dimasak oleh seorang ibu untuk anaknya, berapa meter lantai telah di-sapu dan di-pel oleh seorang ibu, berapa banyak keheningan malam dilalui sang ibu yang terjaga untuk anaknya, berapa kali kedua tangan sang ibu terangkat ketika berdo'a, dan berapa banyak air mata mengalir ketika sujud mendo'akan kebahagiaan dan keselamatan anaknya.
Sang Ibu telah bertahun-tahun menjelma menjadi perawat untuk penyakit batuk, demam, flu, cacar, ataupun sekedar luka di kaki akibat terjatuh.
Ketika seorang sahabat Nabi ber-thawaf mengeliling Ka'bah sambil menggendong ibunya yang sudah sepuh, ia bertanya pada Rasul yang mulia, "Sudahkah terbayar lunas semua jerih payah ibuku?"
Rasul yang mulia menjawab, "Tidak!, bahkan untuk menandingi rasa sakitnya saat melahirkan engkau pun tidak terbayar!"
Dalam bahasa lain, andaikan, sekali lagi, andaikan saja anda mempunyai gunung emas yang kemudian anda berikan semuanya berikut seluruh perbendaharaan harta anda yang lain untuk mengganti semua yang telah dilakukan oleh seorang ibu, niscaya itu semua belum mampu membayar satu malam saja saat-saat ibu mengasuh anda. Tidak pernah ada kata "cukup", "lunas", "terbayar" untuk membalas cinta seorang ibu.
Kita durhaka pada bunda bila bunda tinggal di rumah kecil dan bocor disana-sini, sementara kita tinggal di tempat yang nyaman; kita berdosa bila kita menikmati makan siang yang lezat dan penuh gizi sementara bunda hanya memakan seadanya; kita berdosa bila menghitung biaya sekolah anak dan karena itu menghindar membelikan obat bagi bunda yang tengah sakit; Kita berdosa bila kita dalam perjalanan yang sangat nyaman dalam mobil mewah, sementara bunda naik kendaraan umum yang penuh sesak; kita tergolong anak durhaka bila kita sanggup piknik atau jalan-jalan dengan isteri namun selalu saja punya alasan untuk tidak mengunjungi atau bersilaturahmi ke tempat bunda (atau berziarah ke kuburannya bila bunda telah tiada).
Jangan gunakan logika untuk berkhidmat pada bunda. Balas cintanya dengan cintamu. Kenapa? Karena "Ridha Allah terletak pada ridha orang tua," begitulah ajaran agama kita.
Bagaimana kita bisa membagi cinta kita untuk keluarga, pekerjaan, dan sekaligus untuk ibunda? Jawabannya adalah: kita tidak pernah membagi cinta; tetapi kita selalu melipatgandakannya. Balaslah kekuatan cinta ibunda dengan ketulusan cinta kita; insya Allah --seperti diilustrasikan dalam kisah Harry Potter di atas--cinta sang bunda akan terus melindungi kehidupan kita.
"Ya Rabb, ampuni dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangi kami sewaktu kecil"
Note : Buat renungan untuk kita semua, betapa besar dan agungnya cinta ibu kita kepada kita, sejak dalam kandungan hingga sekarang ini, setelah dewasa dan berdiri sendiri, dapat bekerja, pendidikan dan ajaran agama yang baik, semoga kiranya dapat menjadi pelajaran.

Friday, February 10, 2012

POHON APEL


Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.
Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku." kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu." jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki. "Aku hanya mEmbutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Cinta Seorang Ibu

"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan.
Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!
Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.
Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter.
Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya,
"Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat.
Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya." Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu."
Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini." Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu.
Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. "Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah.
"Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?"
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

Tuesday, December 6, 2011

beranilah untuk bermimpi

teringat ketika pertama kali masuk perkuliahan. motivasi yang diberikan oleh rekan-rekan dari himpunan adalah supaya kita memiliki mimpi yang tinggi, mimpi setinggi langit. ketika itu, saya membuat seratus mimpi-mimpi yang akan dicapai dalam waktu 5 tahun. terhitung dari awal masuk perkuliahan. tentu saja saya membuatnya dan menempelkan di dinding kamar dengan penuh percaya diri. ketika membuatnya pun, saya tonjolkan rasa percaya diri, dengan penuh keyakinan bahwa saya dapat meraih 100 mimpi tersebut.
menginjak semester 2, ada beberapa target dari 100 mimpi saya yang tidak tercapai. dan hal tersebut membuat saya malu. malu karena saya tidak mampu mewujudkan mimpi yang saya tulis itu. akhirnya kertas itu saya cabut dari dinding kamar. dan membuang kertas tersebut.
semenjak itu, saya takut untuk bermimpi dan tidak percaya akan mimpi. dan akhirnya mencoba hidup seperti apa adanya tanpa memiliki arah yang pasti, tanpa memiliki visi misi kedepan yang terarah. yang membuat ironis, saya memberikan motivasi kepada siswa-siswa di beberapa sekolah, dan menyuruh mereka untuk berani bermimpi dan membuat mimpi-mimpinya menjadi kenyataan, padahal saya sendiri bukan orang yang mempercayai mimpi. "mimpi itu kosong dan bermimpi itu untuk orang yang tertidur"
tanggal 6 Desember 2011, saya bertemu dengan salah satu mahasiswa S2 UPI semester 1 jurusan administrasi pendidikan. saya menganggap dia sebagai kakak. saat ini, dia telah menjadi asisten dosen, dan sudah menerbitkan tiga buku dalam waktu 1 semester. dia pun telah menjuarai MTQ cabang menulis tingkat kota Bekasi, yang membuat saya kagum bahwa dia telah menikah dalam usia muda. sungguh prestasi yang luar biasa.
dia menceritakan pada saya, tentang kesuksesan yang telah dia raih. inti dari kesuksesannya adalah 'beranilah untuk bermimpi'. ketika itu saya bertanya, 'bang, saya tidak percaya dengan mimpi, karena ketika saya membuat mimpi-mimpi, say tidak mampu meraihnya'. dia menjelaskan dengan jelas bahwa :
membuat mimpi/terget dalam kehidupan itu penting. jangan pernah melihat hasilnya, karena hasil yang menentukan adalah Allah SWT. tugas kita adalah bekerja dengan sepenuh hati dan bekerja keras untuk meraih mimpi dan target tersebut. apabila hasil itu belum tercapai atau sudah tercepai, segeralah mengevaluasi kerja kita selama ini. (bahasa kerja=ikhtiar).
initinya, saya mendapat sesuatu pelajaran yang berharga. yaitu :
1. buatlah target yang jelas dan sistematis
2. bekerjalah dengan sungguh-sungguh untuk meraih target tersebut
3. evaluasilah kinerja kita yang telah lakukan
BERANILAH BERMIMPI!

Sunday, November 27, 2011

Ampunan-Mu


Ya Allah, hamba telah melakukan apa yang Engkau larang, hamba belum bertaubat dari dosa yang telah hamba lakukan selama ini. Padahal Engkau tidak ridho atas dosa yang hamba perbuat. Engkau telah memberi hamba kesempatan kali ini untuk bertaubat kepada-Mu. Hamba bertaubat atas segala bentuk kema’shiatan yang telah hamba perbuat. Hamba memohon ampun kepada-Mu, maka ampunilah hamba dan ridhoi hamba-Mu ini, Ya Allah.
Ya Allah. Hamba ini lemah, maka jagalah hati hamba, diri hamba dari segala macam bentuk tipu daya setan yang terkutuk. Baik setan rupa manusia ataupun jin. Ya Allah, lindungilah hamba dari godaan-godaan setan, kukuhkanlah hati hamba dalam keimanan dan ketakwaan kepada-Mu, Ya Allah. Matikanlah hamba dalam keadaan husnul khatimah (teguh tauhid kepada Allah semata).
Amin.
Gambaran umum doa yang dibaca ketika memasuki akhir tahun menuju awal tahun ini, memohon kepada Allah untuk diampuni atas segala dosa yang telah diperbuat selama hidup di muka bumi ini dan memohon kepada Allah untuk senantiasa menjaga, membimbing, membina, dan mengarahkan hamba-Nya yang lemah dan bodoh ini kepada jalan yang Engkau Ridhoi.
Manusia tidak akan pernah lepas dari khilaf dan lupa. Akibat dari itu, kedzaliman yang akan dilakukannya. Baik dzalim terhadap diri sendiri atau pun kepada orang lain. Perbuatan seperti itu terkadang datang dari hawa nafsunya sendiri atau pun berupa godaan-godaan (bisa dari mana saja, bisa dari teman, media elektronik, dll).
Dalam surat Fatir ayat 36, Allah menggolongkan manusia menjadi 3 golongan. Yang pertama dzalimu linafsi, manusia yang mendzalimi dirinya sendiri, dialah orang yang melaksanakan apa yang dilarang oleh Allah dan menjauhi atau pun menolak terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah. Manusia tersebut sadar akan perbuatan dosanya, kesadaran akan perbuatan dosa tidak membuat dirinya untuk berhenti melakukan dosanya. Terus dan terus dilakukan. Naudubillah. Yang kedua muqtashid, setengah-setengah. Dialah orang yang gemar beribadah namun gemar juga berbuat dosa. Semuanya dilakukan dengan imbang, baik berbuat amal shaleh dan amal salah. Yang ketiga, fastabiqul khayrat. Dialah orang yang senantiasa berloma-lomba dalam kebaikan, senantiasa ber-amar ma’ruf nahyi munkar, bermala shaleh, dan gemar untuk beribadah, subhanallah.
Ada salah satu amalan dari Nabi Yunus as, ‘Laa ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadzdzalimin’. Artinya ‘Tiada Illah Selain Allah, Maha Suci Engkau sesungguhnya hambamu ini telah berbuat kedzaliman’. Dalam salah satu hadist qudshi disebutkan bahwa, apabila diantara kamu yang sadar akan perbuatan dosanya kemudian membaca amalan diatas, maka akan dicabut segala kesusahannya.
Bersambung. (nantikan tulisan selanjutnya). Terima kasih.

Tuesday, November 22, 2011

tertawa di telinga kiri

Sebuah kejadian yang saya alami malam kemarin (21 November 2011), sekitar pukul 23:50. saya terbangun dari tidur yang pendek. Memang, ketika itu saya tidur pada pukul 23.15 karena habis nonton bola antara Indonesia dan Malaysia, walaupun Indonesia mengalami kekalahan.
Ketika bangun, entah kenapa mata saya tiba-tiba terbuka dan langsung terpikir, auditorium FPTK UPI di lantai 4. Memang, hari minggu kemarin saya sehabis darisana. Karena ada pelaksanaan final GMM (salah satu program kerja BEM Himatika ‘Identika’ UPI).
Saat berpikir dan membayangkan auditorium tersebut, saya serasa melihat ada sesosok wanita. Pikiran tentang ini pun, berlangsung dengan sangat cepat layaknya motor dalam kecepatan tinggi. Yang membuat saya tidak habis pikir, adalah pikiran yang sedang saya alami ketika itu membuat sebuah hirarki yang memiliki korelasi terhadap kejadian-kejadian.
Saya sadar, bahwa saya sedang tidak berada disana, karena saya sedang berada diatas kasur pada malam itu. Tiba-tiba saja, tubuh saya tidak bisa digerakkan, untuk berbicara pun sulit. ‘loh ini kenapa?  Apakah ini ereup-ereup (dalam istilah sunda, dalam istilah Indonesia saya kurang tahu)’ saya mencoba bertanya-tanya dalam diri yang tak mampu bersuara.
Memang, beberapa kali saya pernah mengalami kejadian ini. Namun, yang membedakan diantara kejadian lainnya. Yaitu terdengar suara tertawa wanita di telinga kiri saya, dengan suara ‘hihihihi’. Dan itu berlangsung cukup lama.
‘Allah Allah Allah’, saya terus mencoba mengatakan lafadz Allah ketika mendengar suara tersebut. Namun tetap saja, bibir terasa amat berat untuk digerakkan. Tapi saya tidak putus semangat, saya terus melafalkan lafadz Allah di dalam hati dibarengi dengan mencoba untuk menggerakkan seluruh badan.
Karena sulit untuk menggerakkan secara keseluruhan, gerakkan yang pertama kali saya lakukan adalah memalingkan wajah saya ke arah kanan. Memang sangat berat sekali, tapi saya harus bisa mencobanya. Dan Alhamdulillah, berkat rahmat Allah. Saya mampu menggerakkan kepala saya, dan saya katakan ‘Allah’. Itulah lafadz yang pertama kali saya lafalkan.
Ternyata, ketika saya tidur. Kepala saya berada di arah timur dan kaki saya berada di arah barat, dan sebelum tidur saya tidak membaca doa sebelum tidur. Pada pukul 00:00, saya kembali melanjutkan tidur yang sempat terpotong, dengan membalikkan arah tidur saya (kepala di sebelah barat dan kaki di sebelah tidur) dan tidak lupa juga untuk membaca doa sebelum tidur.
semoga bisa diambil hikmahnya atas kejadian yang telah saya alami, alhamdulillah, wassalam.

Friday, November 18, 2011

Gambaran manusia akhir zaman 2

lanjutan dari gambaran manusia akhir zaman I,
yang keempat, manusia lebih mencintai hartanya dan manusia melupakan hari perhitungan.
hal ini sudah terbukti hingga saat ini. banyak sekali manusia yang terus mengumpulkan hartanya, tanpa memikirkan apakah harta yang mereka peroleh itu halal atau haram. mereka tidak mempedulikan berasal darimana hartanya, naudzubillah.
senantiasalah, kita harus mempertanyakan ketika memperoleh sesuatu, baik hal tersebut merupakan harta benda, ataupun hal tersebut makanan atau minuman. tanyakanlah 'ini berasal darimana?'. karena sesungguhnya segala sesuatu itu akan di hisab oleh Allah. dari yang sekecil biji dzarrah akan Allah perhitungkan. bayangkan apabila selama hidup ini, makanan, minuman, dan harta yang kita gunakan dan peroleh bukan merupakan haq kita dan tidak mampu kita pertanggung jawabkan dengan baik, sesungguhnya adzab Allah itu sangatlah pedih.
bukan beraati pula, kita tidak boleh mencintai harta yang kita miliki, karena harta yang dimiliki secara benar dan halal, itu merupakan haq kita. haq yang kita miliki harus kita jaga dengan baik.
yang kelima, manusia lebih mencintai makhluq dan manusia melupakan khaliq.
hal inilah yang sering kita alami. teruatam penulis sendiri (Hilman 'Sang Generator' Nuha). mungkin disini saya akan lebih menceritakan kisah hidup dan pengalaman hidup saya selama ini berkenaan dengan hal tersebut.
saya pernah mengalami yang namanya jatuh cinta, mengapa saya berani mengatakan hal tersebut, karena orang bilang, cinta itu buta, lalu orang yang jatuh cinta itu akan merasakan hidup yang kurang tenang apabila ungkapan cinta itu belum tersampaikan kepada yang dicintai, ataupun juga akan merasa ada yang kurang apabila pihak yang dicintai itu belum menerima cinta kita kepadanya.sehingga akan terus mengejarnya hingga cinta tidak bertepuk sebelah tangan. (lebih dikenal hal layak umum dengan istilah pacaran).
ketika saya mencoba mengatakan kepada salah satu teman, 'saya sedang jatuh cinta'. lalu teman tersebut mengatakan 'mengapa kamu bisa mengatakan bahwa kamu sedang jatuh cinta? apa buktinya?'. seketika itu saya terdiam seribu bahasa, seolah ungkapan tersebut tidak mampu diungkapkan dengan lisan. maupun ungkapan tersebut tidak mampu diurai dengan kata-kata. sehingga mulailah pemikiran yang sebenarnya dari dasar pemikiran dan lubuk hati yang terdalam, mulai mempertanyakan, apa cinta itu?
dari pengalaman yang saya peroleh, bahawa cinta itu merupakan salah satu pondasi yang dimiliki oleh manusia, untuk mengobarkan jiwa, raga dan seluruh yang dimilikinya untuk yang dicintainya.
yang menjadi pertanyaan, benarkah saya sudah mampu untuk melakukan semua itu kepada seseorang yang saya cintai? ternyata tidak.
dalam sebuah kajian, pernah dibahas berkenaan dengan cinta. bahwasannya cinta yang sesungguhnya yang dimiliki oleh seorang anak Adam adalah cinta kepada yang menciptakan. mengapa demikian? karena Yang Maha menciptakan itu senantiasa terus menerus memperhatikan kita, terus memberikan apa yang kita berikan, terus menerus memberikan kita petunjuk disaat kita tersesat ataupun berada dalam jurang kema'shiatan. coba bayangkan oleh diri kita. seandainya ada orang yang terus menerus memperhatikan kita, sikap apa yang akan kita tunjukkan kepada dirinya, secara otomatis, pertama kegeeran (mulai membuat asumsi bahwa orang tersebut mencintai atau menyukai kita, apabila seseorang tersebut lawan jenis kita), kedua mulai memberikan perhatian juga, sebagai salah satu respon positif yang dimiliki oleh manusia. sehingga, sama halnya ketika Yang Maha Menciptakan terus menerus memperhatikan kita, mengapa hingga detik ini kita tidak memperhatikanya juga? . sikap memperhatikan kita kepada Yang Maha Menciptakan bukan dengan perhatian semata, namun dengan ibadah yang selalau dilandasi oleh tauhid yang benar.
akhirnya saya mendapat sebuah kesimpulan, bahwasannya rasa yang dimiliki oleh manusia terhadap lawan jenisnya bukan merupakan cinta, namun sekedar rasa suka semata. sehingga perasaan yang saya alami tentang jatuh cinta itu merupakan suatu hal yang berlebihan, atau bahasa lainnya LEBAY.
cinta dan suka memiliki satu kesamaan, yaitu keduanya berasal dari hati. hal inilah yang membuat hidup anak Adam menjadi lebih indah, menjadi lebih bermakna dalam kehidupannya. teringat ada pepatah arab berkenaan dengan hati, berbunyi seperti ini :
Hati itu satu, ketika hati itu menyukai terhadap satu perkara, maka lupalah terhadap perkara lainnya.
artinya, ketika kita menyukai seseorang, maka kita akan melupakan semua perkara selain seseorang tersebut, saya katakan 'mengerikan'. namun, saya pernah mengalami hal yang serupa. ketika menyukai seseorang, segala macam bentuk perlakuan saya dasarkan untuk orang tersebut, segala macam bentuk penampilan saya persembahkan untuk orang tersebut, sampai-sampai beribadah (misal shalat) yang berada dalam pikiran maupun hati bukan Allah, tapi orang yang saya cintai. (terkesan berlebihan, tapi hati itu tidak bisa dibohongi, inilah yang terjadi pada hati kita apabila kita sedang menyukai terhadap satu perkara)
coba renungkan, seandainya hidup kita terus seperti itu. sudah berapa tahun, bulan, dan hari ibadah yang kita lakukan sia-sia, karena hancur oleh landasan yang dibangun salah.
bukan sesuatu hal yang salah, ketika kita menyukai seseorang ataupun mencintai seseorang. namun ketika hal tersebut menimpa kita, kita harus membangun rasa tersebut, dengan pondasi bahwasannya karena Allah. hal ini, tidak bisa dianggap mudah, dan juga tidak bisa dianggap sulit. jika dijalani dengan hati yang ikhlas dan sabar, insya Allah kita bisa.
tetap ingatlah, bahwa Allah itu dekat. dan Allah akan selalu memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh setiap hambanya. saya harus mulai mencoba untuk memulai melandaskan ibadah saya, karena cinta kepada Allah. harus.
mohon maaf apabila, korelasi antara judul dengan isi content kurang baik atau malahan buruk. karena penulis sendiri masih belajar menulis. semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis khususnya, dan umumnya bagi pembaca semua. dan bisa diambil hikmahnya. amin.
wassalam.