Labels

Showing posts with label Pembelajaran Matematika. Show all posts
Showing posts with label Pembelajaran Matematika. Show all posts

Wednesday, April 23, 2014

Tugas Matematika

Download tugas Peluang :
http://www.4shared.com/file/zRZ-GBdXce/tugas_peluang.html
klik disini

download tugas Statistika :
http://www.4shared.com/file/EXJsIxOXba/tugas_statistika.html
klik disini

download tugas Matriks :
http://www.4shared.com/file/3Sq0ZYWLce/tugas_Matriks.html
klik disini

selamat mengerjakan

tugas yang diberikan untuk kelas X program MIIA

selamat mengerjakan. ^.^

Tuesday, April 22, 2014

Soal Pra Ulangan Peluang kelas X Matematika Dasar

diunduh di :
http://www.4shared.com/file/Yu90zdvVce/Soal_Pra_Ulangan_Peluang.html
klik disini

Pembelajar

bukan seberapa pintar kita menghitung
bukan seberapa ahli kita mengahap rumus
tapi seberapa cerdas kita mau belajar
untuk menjadi pribadi yang seutuhnya

tiada hari tanpa hikmah
Sang Khaliq memberikan media hikmah yang beragam
matematika menjadi media hikmah ilmu Allah
agar senantiasa ingat kepada Allah

Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Allah
yang mengajarkan peluang nol dan satu
kematian kami pasti adanya (P(manusia) = 1)
dan tak mungkin kami menentang-Mu (P(manusia)=0)

memilih jalanmu atau tidak memilihnya
hanya 0,5 peluang kami
ampunilah kami, tunjukilah kami
cerdaskanlah kami, amin..

-Hilman Nuha- ^.^

Monday, March 17, 2014

Sistem Persamaan Linear Kuadrat


untuk Siswa-Siswi tercinta kelas X Miia ...
atau kunjungi : disini
http://www.youtube.com/watch?v=iGa9bT2vvHQ

Thursday, January 23, 2014

SPLTV


SPLTV adalah Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel. diatas adalah video pembelajaran mengenai SPLTV, selamat menyaksikan.

Saturday, February 11, 2012

Dasar-dasar Counting

materi yang akan diajarkan dari mata kuliah matematika kombinatorik ada 3 pokok bahasan, yaitu : counting, Relasi Rekursi, dan Bujur Sangkar Latin.
counting terdiri dari dasar-dasar counting, prinsip inklusi dan eksklusi, pigeonhole principle, permutasi dan kombinasi, koefisien binomial, perluasan permutasi dan kombinasi, segitiga pasal.
relasi rekursi terdiri dari pemodelan masalah-masalah dengan relasi rekursi, relasi rekursi linier homogen, relasi rekursi linier non homogen, fungsi pembangkit.
pembahasan kali ini tentang dasar-dasar counting, ada aturan penjumlahan dan aturan perkuliahan, untuk selengkapnya silahkan unduh materi power point yang dibuat oleh : Khusnul Novianingsih, S.Si.,M.Si. (Dosen UPI). untuk mendapatkan materinya klik disini. atau ke link dibawah ini :
semoga bermanfaat.

Friday, November 4, 2011

DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA UNTUK SISWA SMA KELAS XI

Diagnosis dapat diartikan sebagai upaya atau proses menentukan kelemahan atau penyakit apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang saksama mengenai gejala-gejalanya. Didalam pekerjaan diagnostik bukan hanya sekadar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.
Burton mendefinisikan gagal belajar, adalah sebagai berikut :
1.     Siswa dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan minimal dalam pelajaran tertentu.
2.   Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya : intelegensi, bakat).
3.      Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola organismiknya.
4.   Siswa dikatakan gagal kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya.
Dari keempat definisi tersebut, bahwa siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu.
Adapun diagnostik kesulitan belajar sebagai suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan-kesulitan belajar dengan menghimpun dan mempergunakan berbagai data/informasi selengkap dan seobjektif mungkin sehingga memungkinkan untuk mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternatif kemungkinan pemecahannya.
Prosedur dan teknik diagnostik kesulitan belajar :
1.      Siapa Siswa yang mengalami gangguan?
2.      Di manakah kelemahan-kelemahan itu dapat dialokasikan?
3.      Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi?
4.      Penyembuhan-penyembuhan apakah yang disarankan?
5.      Bagaimana kelemahan itu dapat dicegah?

Langkah yang akan ditempuh :
1.      Menentukan siswa yang akan di diagnosis (individu)
2.   Melihat indeks prestasi siswa dari nilai raport secara keseluruhan dan melihat peringkat kelas yang telah diraih oleh anak tersebut
Cek raport :
a. Nilai raport matematika semester 1 hingga semester 3.
Nilai ujian tengah semester, nilai tes unit, dan nilai tugas selama semester 4
3.     Mengambil data pribadi siswa : identitas pribadi, kondisi fisik dan kesehatan, potensi diri, hasil karya, status dan kondisi keluarga, status dirinya, dan kondisi kehidupannya sehari-hari (terlampir 4).
4.    Melakukan tes kepada anak : tes kepribadian, tes pendidikan (menggunakan rank), tes minat bakat, tes motivasi, tes hasil belajar
5.   Melakukan nontes kepada siswa : angket tertulis, otobiografi (masa kecilku, keadaan keluargaku, pengalaman masa kecilku, bersama orang-orang yang aku sayangi, hari-hari kelam dalam hidupku, cita-citaku di masa depan), dan wawancara yang bersifat non-direktif (membantu siswa dalam menyelesaikan masalahnya, dimana siswa sebagai subject dialah pemeran utamanya)
6.      Analisis data
7.      Ambil sebuah kesimpulan

Student Teams-Achievement Divisions (STAD)

Student Teams-Achievement Divisions (STAD)
A cooperative learning method for mixed-ability groupings involving team recognition and group responsibility for individual learning.

Student Teams-Achievement Divisions (STAD)  In Student Teams-Achievement Divisions (STAD) (Slavin, 1994a), students are assigned to four-member learning teams that are mixed in performance level, gender, and ethnicity. The teacher presents a lesson, and then students work within their teams to make sure that all team members have mastered the lesson. Finally, all students take individual quizzes on the material, at which time they may not help one another.
            Students’ quiz scores are compared to their own past averages, and points are awarded on the basis of the degree to which students meet or exceed their own earlier performance. These points are then summed to form team scores, and teams that meet certain criteria may earn certificates or other rewards. In a related method called Teams-Games-Tournaments (TGT), students play games with members of other teams to add points to their team scores.
            STAD and TGT have been used in a wide variety of subjects, from mathematics to language arts to social studies, and have been used from second grade through college. The STAD method is most appropriate for teaching well-defined objectives with single right answers, such as mathematical computations and applications, language usage and mechanics, geography and map skills, and science facts and concepts. However, it can easily be adapted for use with less well-defined objectives by incorporating more open-ended assessments, such as essays or performances.

Methods
One major approach that is accepted as an effective method of cooperative learning is the Student Teams and Achievement Divisions (STAD) format crated by R. Slavin. Mary Hamm and Dennis Adams describe Slavin’s approach in their book, the collaborative dimensions of learning. His theory has five components:
1.      Class Presentation
Each week new material is first presented by the teacher to the whole class in a lecture discussion, or video technology format.
2.      Teams
Students are assigned to four or five member learning teams. Each team represents a cross section of the class, made up high, average, and low-achieving students, girls and boy, students of differing ethnic, racial, and economic backgrounds.
3.      Quizzes
After the team practices, each student takes a quiz on the material they have been studying. The quizzes assess individual achievement on the material presented and practiced in class. Group members may not help individuals on the quizzes.
4.      Individual Improvement Scores
A scoring system allows student to earn points for their team based on individual improvement over past performance
5.      Team Recognition
Teams are recognized for high individual performance and high team scores. Social recognition such as weekly class newsletters, bulletin boards displays, or weekly class radio announcements are used as rewards for individuals and teams.
(Slavin 1987) from Cooperative Learning : A New Direction. William Kimberly D. 1996.

Jolliffe (2005) explored the implementation of CL (STAD model) in some selected schools in England and found that teachers in those schools were convinced of the effectiveness of CL regarding its positive effects on
(a) academic achievement
(b) development of social skills.
A large majority of the teachers from the sample schools reported its use and half of them claimed to use it in more than half of their lessons.
“Effects of Cooperative Learning vs. Traditional Instruction on Prospective Teachers’ Learning Experience and Achievement” by Zaheer AHMAD and Nasir MAHMOOD. 2010.

The superiority of STAD cooperative learning strategy over the conventional technique could be attributed to the fact that it makes  students  develop  more  positive  attitudes  toward  self,  peer,  adults  and  learning  in  general (Omoshehin, 2004).
“EFFECTS OF STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS STRATEGY AND
MATHEMATICS KNOWLEGDE ON LEARNING OUTCOMES IN CHEMICAL KINETICS”
 by  Dr. Francis A. ADESOJI and Dr. Tunde L. IBRAHEEM. 2009.

In STAD, students are assigned to four- or five-member learning teams. The teams are composed of high, average, and low performing students, and of boys and girls of different racial or ethnic
backgrounds. Thus, each team is a microcosm of the entire class. There are five main steps a teacher should follow when STAD is implemented. The teacher first introduces new materials to be learned. The team members then study worksheets on the material until they master the material. Individual quizzes are taken on the material studied. The teacher then combines the scores to create team scores. Members of the winning team are given certificates and a weekly one-page class newsletter recognizes the teams with the highest scores. Researchers reported that
classes using cooperative learning showed an increase in achievement, attitude, self-esteem, and social relationships
(Edwards et al. 1972, Edwards and DeVries 1972, Gonzales 1979, Slavin and Karweit 1981, Ziegler 1981, Slavin 1989).

There are four reasons, which led to the selection of STAD as an alternative
teaching method.
First, it facilitates interaction between students in class.
Second, it improves attitude, self-esteem, and interpersonal relationships; all of these contribute to a positive attitude towards science.
Third, it adds an extra source of learning within groups, such as the high achievers who take on the role of tutors.
The end result is a higher achievement for everyone. Fourth, it prepares students to fit into modern society by teaching them to work with their classmates efficiently and effectively.
“The effectiveness of student team-achievement division (STAD) for teaching high school chemistry in the United Arab Emirates” Nagib M. A. Balfakih, United Arab Emirates University, Al-Ain Box 17551, United Arab Emirates; e-mail: balfakih@hotmail.com 2003

The findings have indicate that STAD is a more effective teaching method than the traditional-teaching method in teaching tenth grade chemistry classes in the UAE. Male students benefited more than female students from using STAD as an alternative teaching method.
“The effectiveness of student team-achievement division (STAD) for teaching high school chemistry in the United Arab Emirates” Nagib M. A. Balfakih, United Arab Emirates University, Al-Ain Box 17551, United Arab Emirates; e-mail: balfakih@hotmail.com 2003

Sunday, October 23, 2011

Objek matematika abstrak – perlu peragaan.

           Soedjadi (1999: 138) mengemukakan bahwa matematika adalah salah satu ilmu dasar, baik aspek terapannya maupun aspek penalarannya mempunyai peranan yang penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi. Ini berarti sampai batas tertentu, matematika perlu dikuasai oleh segenap warga negara Indonesia, baik terapannya maupun pola pikirnya. Itulah alasan penting mengapa matematika perlu diajarkan di setiap jenjang sekolah. Mengingat begitu luasnya materi matematika, maka perlu dipilih materi-materi matematika tertentu yang akan diajarkan di jenjang sekolah. Materi matematika yang dipilih itu kemudian disebut matematika sekolah. Matematika sekolah adalah unsur-unsur atau bagian-bagian dari matematika yang dipilih berdasarkan atau berorientasi kepada kepentingan pendidikan dan perkembangan IPTEK. Dengan demikian menurut Soedjadi (1999: 37), matematika sekolah tidak sama dengan matematika sebagai ilmu dalam hal penyajiannya, pola pikirnya, keterbatasan semestanya, dan tingkat keabstrakannya. Untuk mempermudah penyampaiannya, penyajian butir-butir matematika harus disesuaikan dengan perkiraan perkembangan intelektual siswa, misalnya dengan menurunkan tingkat keabstrakannya, atau dalam batas-batas tertentu menggunakan pola pikir induktif, khususnya untuk siswa di sekolah tingkat rendah, mengingat mereka belum dapat berpikir secara abstrak dan menggunakan pola pikir deduktif.
Sebagai contoh : bagaimana caranya menjalaskan bahwa 1 + 1 = 2 kepada anak-anak yang belum mempelajari hal tersebut. Pernahkah kita melihat bagaimana buku-buku yang disajikan kepada anak TK maupun anak SD kelas I atau II. Buku tersebut banyak sekali gambar, baik gambar yang berwarna maupun gambar yang tidak berwarna. Setelah kita lihat, ternyata anak-anak seumuran TK hingga SD kelas I dan II hanya mampu berpikir konkret saja, berpikir terhadap apa yang ada dalam pandangannya. Sama hal nya dengan menjelaskan 1 + 1 = 2, mesti ada ilustrasi terhadap hal tersebut. Misalnya kita menggunakan boneka yang sama. Satu boneka digabungkan dengan satu boneka yang sama pula akan menjadi dua boneka. Boneka tersebut sebagai media, alat bantu dalam menyampaikan informasi yang akan diberikan oleh pendidik kepada peserta didik. Sehingga abstrak itu adalah tidak konkret, dan matematika itu abstrak. Sehingga butuh peragaan bagi peserta didik yang masih berpikir konkret.
Alat peraga, menurut Estiningsih (1994) merupakan media pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri dari konsep yang dipelajari.
Didukung oleh pendapat piaget, masa remaja (pada tingkat SMP dan SMA) telah dapat berpikir logis tentang berbagai gagasan yang abstrak. Dengan kata lain berpikir orientasi formal lebih bersifat hipotesis dan abstrak, serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan masalah daripada berpikir konkret. Selain itu, Perkembangan kognitif bersifat tahapan, urutan tahapan berlaku secara universal tapi batasan waktu berbeda-beda tergantung budaya. Sehingga, masa remaja merupakan masa perkembangan dalam berpikir abstrak.
Siegelman dan Shaffer menambahkan, bahwa pada periode konkret, anak mungkin mengartikan sistem keadilan dikaitkan dengan polisi atau hakim, sedangkan remaja mungkin mengartikannya secara lebih abstrak, yaitu sebagai suatu aspek kepedulian pemerintah terhadap hak-hak warga masyarakat yang mempunyai interes yang beragam.

Apa itu media pembelajaran?

Kata-kata media bukan merupakan hal yang asing untuk didengar, namun berkenaan dengan definisi dari media, tidak semua orang mampu menjawab dengan jelas. Sedemikian sehingga terdapat beberapa pendapat berkenaan dengan pengertian media, yaitu :
·         Menurut Criticos, media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan.
·         Menurut Bovee, Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan.
·         Menurut Dadang Supriatna, media dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang menjadi perantara atau penyampai informasi dari pengirim pesan kepada penerima pesan.
·         Pengertian media menurut Gagne adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat Media Pembelajaranmerangsang siswa untuk belajar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
·       Menurut Santoso S. Hamijaya, bahwa media adalah bentuk perantara yang dipakai orang penyebar ide, sehingga ide atau gagasan itu sampai pada penerima.
·      Menurut Mc Luhan, media adalah sarana yang disebut pula chanel, karena pada hakikatnya media telah memperluas atau memperpanjang kemampuan manusia untuk merasakan, mendengar, dan melihat dalam batas-batas jarak, ruang dan waktu tertentu, kini dengan bantuan media batas-batas itu hamper menjadi tidak ada.
·         Menurut Blake dan Horalsen, media adalah saluran komunikasi atau perantara yang digunakan untuk membawa atau menyampaikan sesuatu pesan, dimana perantara ini merupakan jalan atau alat untuk lalu lintas suatu pesan antara komunikator dengan komunikan.
·   Briggs menyebutkan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
·      Sementara itu Schramm berpendapat bahwa media merupakan teknologi pembawa informasi atau pesan instruksional yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar dan dibaca.
Jadi, media merupakan suatu alat perantara yang digunakan oleh penyampai pesan kepada penerima pesan untuk mengirimkan informasi tanpa batas ruang, jarak, dan waktu.
Sedangkan media pembelajaran itu sendiri adalah :
·         Menurut I Wayan Santyasa, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.
·   Menurut Dadang Supriatna, media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. 
·    Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi pembelajaran yang ada dalam kurikulum yang dituangkan oleh pengajar atau fasilitator atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi, baik simbol verbal  maupun simbol non verbal atau visual.
·         Menurut Schramm, media pembelajaran dapat diartikan sebagai teknologi pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
·  Menurut Briggs, media pembelajaran diartikan sebagai sarana untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran.
·         Menurut Santoso S. Hamidjo, adalah media yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran yang biasanya sudah dituangkan dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dan dimaksudkan untuk mengoptimalkan pencapaian suatu kegiatan belajar mengajar.
Jadi, media pembelajaran adalah suatu alat perantara yang digunakan oleh pendidik kepada peserta didik untuk menyampaikan isi pembelajaran yang tertera dalam kurikulum yang telah ditetapkan sedemikian sehingga mampu merangsang perhatian, minat, perasaan, dan pikiran peserta didik dalam keberlangsungan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar.

Sunday, October 16, 2011

Arithmetic’s course

Some people disagree when their children study in arithmetic’s course, it’s because they don’t know the advantage of it. Actually, if they know what their children should get from it, maybe they will be effort to participate their children into this course. Some advantages for children are prepare children for real world math,  learning to compute mentally,   calculate efficiently, to know when accuracy is essential and when estimates will suffice.
Arithmetic can prepare children for real world math. Most of the daily situations that require arithmetic call for more than merely counting. For example, we need to problem-solve in order to decide on the numbers to use or which operation to choose.
Learning to compute mentally is an essential skill. We do many of our daily arithmetic calculations mentally, such as when we keep track of what we put in the supermarket cart so we don't go over the $20 we have, when we divide a check at a restaurant, or when we double a recipe that calls for 3/4 of a cup of broth. Usually we don't reach for paper and pencil, but figure in our heads.
To calculate efficiently, it's important to know basic facts. Students should have math facts at their fingertips before they leave elementary school, such as addition and subtraction combinations to 20, multiplication tables to 12 x 12, and related division facts. Students learn some of the facts easily, such as adding 1 to any number or doubling numbers. Still, memorization is necessary to learn all of the facts.
To know when accuracy is essential and when estimates will suffice. When we balance our checkbooks or make change, accuracy is important. But in many situations, estimates will do, such as when we double the amount of broth for a recipe or measure fertilizer for the lawn. Sometimes estimates are the only answers possible, such as when contractors bid for jobs, business owners figure margins of profit, or school districts predict the next year's budget.
The advantage those make children can be preparing for real world mathematics, they can calculating efficiently and accuracy. So, I suggest for some people don’t worry, because they not be loss out. I recommended to them, they should for children to study in arithmetic’s course.
oleh :

Adam Rahmat (0900816)
Alfiani Amelia (0909022)
Elisa Rahmadona (0900704)
Hilman Nuha R. (0902262)
Rini Yulianingsih (0900629)
Siti Khazanatu (0900722)